jika pemuda itu kita…mahasiswa

August 7th, 2008 by myustories

ARTIKEL…

Dalam rangka mengikuti

Lomba Artikel BEM UNS

“100 Tahun Kebangkitan Nasional Sebagai Tonggak Perubahan Arah Bangsa”

 

Hari
ini aku lihat kembali

Wajah-wajah
halus yang keras

Yang
berbicara tentang kemerdekaaan

Dan
demokrasi

Dan
bercita-cita

Menggulingkan
tiran

Aku
mengenali mereka

yang
tanpa tentara

mau
berperang melawan diktator

dan
yang tanpa uang

mau
memberantas korupsi

Kawan-kawan,

Kuberikan
padamu cintaku

Dan
maukah kau berjabat tangan

Selalu dalam hidup ini?

potongan  pesan  Soe Hok Gie di atas puncak Pangrango
,

Sebuah
semangat untuk bangkit, semangat untuk berjuang, hanya muncul dari diri
sendiri, diri yang selalu tahu tujuan hidupnya, yang tahu kepada siapa harus
mendedikasikan dirinya….meskipun dalam keterbatasan, meskipun apa adanya…

 

…Evaluasi
Diri Sendiri, Awal Kebangkitan Sejati….

 

Seratus tahun kebangkitan bangsa. Akan menjadi sebuah seremonial sakral
tatkala mencapai ukuran seabad, ukuran yang tak sebentar untuk manusia, namun
masih terlalu singkat untuk perjalanan sebuah bangsa. Sejenak teringat tatkala
guru SD kita  –sang pahlawan tanpa
tanda jasa-  memberikan petuah “bangsa yang besar itu  adalah bangsa yang mengenang jasa para pahlawannya”…dan
kita harus merasa bangga, Indonesia termasuk dalam kriteria tersebut, bahkan
hampir semua pahlawan Indonesia diabadikan menjadi nama jalan-jalan utama di
seluruh penjuru negeri, sebuah harapan dari para penggagas-penggagasnya untuk
mengingatkan anak-anak bangsa agar selalu mengenang dan meneladani setiap
perjuangan para pahlawan, yang telah membawa negeri ini merdeka –sebuah ukuran
keberhasilan perjuangan tempo dulu- dan mengaplikasikannya dalam kehidupan,
tentunya dengan menganut konsep kekinian dan selalu optimis dapat melangkah
lebih baik. Berbicara mengenai mengenang pahlawan, sangat menarik untuk
menengok momentum tanggal 20 Mei 1908, dimana pada masa itu sebuah perjuangan
telah mencapai fase penemuan kekuatan sejati. Sebuah semangat persatuan yang
didukung intelektualitas para cendekiawan dan pemuda, sehingga mampu menunjukkan
bahwa Indonesia tidak sepenuhnya tertindas, tapi juga masih ada titik-titik
cahaya harapan untuk bangkit dari keterpurukan penjajahan.

Mengevaluasi
sebuah perjalanan bangsa Indonesia, sama saja dengan mengevaluasi diri kita
sendiri, karena tidak dinamakan bangsa Indonesia jika tak ada rakyat Indonesia.
Sebuah “kebangkitan bangsa” yang tercipta dan dipatenkan dari peristiwa 20 Mei 1908 silam mungkinkah
benar-benar mampu terulang dalam tiap tahun-tahun Indonesia, dimana lakonnya
bukan lagi para pahlawan terdahulu, tapi rakyat Indonesia, dan lebih tepatnya
kita sebagai pemuda-pemuda bangsa, yang (seharusnya) masih punya semangat
perjuangan tinggi, karena didukung fisik, mental dan kesempatan yang potensial.

Layaknya
sebuah jalan, ada yang berliku, ada yang lurus dan ada pula yang terjal, pun
demikian dengan Indonesia, bahkan di Indonesia dapat didenotasikan. Sejak
seratus tahun lalu, -yang kita sendiri belum pernah melaluinya- hingga sekarang
pastinya selalu ada sebuah pembelajaran dari masa ke masa agar setiap langkah
yang diambil selalu tepat, dan tidak berkali-kali masuk ke dalam lubang
kesalahan yang sama, meskipun dalam tiap tahun tersebut tak dapat dihindari
rakyat Indonesia pernah lama belajar dengan “guru” yang sama, dan dengan sistem
yang sama pula, dan hasilnya pun tak seratus persen buruk, secara kasat mata
justru amat sempurna, namun lagi-lagi jika nurani telah bicara, maka sebuah
keberanian akan muncul seketika, ya..meskipun muncul setelah terdesak kondisi
yang serba tertindas dan teraniaya.

Tahun
1998 menjadi catatan tersendiri bagi bangsa Indonesia, lagi-lagi di bulan Mei,
Indonesia mencoba membuat catatan sejarah baru dengan mengganti “guru’ yang
sebelumnya menuntun kita menggoreskan nilai baik dan buruk (juga buruk yang
dipoles baik) di raport Indonesia, dan mengganti semua sistem yang ada dengan
yang (dirasa) lebih baik, meskipun untuk mendapatkannya disertai dengan
pengorbanan. Korban-korban kerusuhan saat itu entah dari mahasiswa maupun warga
sipil telah membuktikan bahwa tak ada yang tak mungkin dalam perjalanan hidup
Indonesia. Meskipun pada tahun 1998 sudah jauh dari masa-masa pertempuran
merebut kemerdekaan, ternyata semangat perjuangan itu muncul lagi, dan para
pemuda Indonesia dalam hal ini mahasiswa kembali menunjukkan pada dunia bahwa
di tangan merekalah arah kebangkitan bangsa Indonesia berada. Sebuah kekuatan
yang akhirnya mampu menggoreskan catatan sejarah baru bagi bangsa Indonesia,
Indonesia bangkit lagi dari tidur panjangnya yang lelap dibuai angin kemakmuran
dan berselimutkan perlindungan, yang sejatinya tak adil dan terkadang penuh
dengan kebohongan.

Dua
episode terdahsyat dalam sejarah kebangkitan bangsa, 1908, 1998, mungkinkah
akan ada episode yang lebih luar biasa di tahun 2008? Dan di tahun-tahun
salanjutnya? yang menyadarkan bahwa kita belum berada di puncak segalanya,
masih mendaki terjal misteri kehidupan yang penuh teka-teki, benarkah negeri
kita sudah berada dalam jalur yang benar? Evaluasi kebenaran, diawali dari diri
sendiri, sudahkah kita benar, sudahkah idealisme kita benar-benar mampu membawa
Indonesia berada di puncak kejayaan?

Sudah saatnya tidak hanya mengenang sejarah
perjuangan, tapi membuat sejarah perjuangan.  Tiap generasi, tiap langkah kaki, tiap janji,
semua mengisyaratkan sebuah teka-teki, mungkinkah Indonesia berjaya dalam
genggaman pemuda yang hanya bisa bermimpi? Kita pemuda yang diimpikan, atau
pemuda yang hanya bisa bermimpi, atau bahkan hanya pemuda dalam mimpi? Rabalah
nurani untuk menjawabnya, tidak harus menjadi yang sempurna, tidak harus menjadi
segalanya, tidak harus seperti Gie, tidak harus seperti korban Trisakti atau
Semanggi, tidak harus seperti itu. Hanya diri sendiri yang tahu arah dan bentuk
“pergerakan” yang akan dijalani, sebuah pergerakan, pembuktian diri bahwa ada
sebuah dinamisasi intelektualitas dalam berpikir, dalam bersikap dan dalam
mengambil keputusan, yang cerdas dan bijaksana, tidak terjebak dalam trend dan
apresiasi history sempit, sehingga banyak pemuda yang saat ini “latah” dalam
bertindak, mengabaikan sisi logika modern yang lebih realistis. Idealisme dalam
diri terkadang terasa semakin berat tatkala tiada ada keseimbangan kemampuan
untuk mengontrolnya, sehingga setiap langkah terasa tak termaknai dan terjadi
seperti sebuah proses hidup yang berlalu saja, yang monoton dan tidak
menciptakan prestasi.

Pergerakan
yang dilakukan pemuda saat negeri ini belum merdeka, berhiaskan sebuah
pertumpahan darah dan trauma yang tak dapat lagi dilukiskan, namun setiap
jengkal perjalanan pergerakan mereka entah melawan atau bertahan, selalu
menginspirasi perjuangan pemuda saat ini, meskipun yang diperjuangkan sudah
berbeda. Tak beda jauh saat bergulirnya reformasi, ada pula pertumpahan darah
dan trauma, korban yang telah menjadi alat penukar terbitnya Indonesia baru
telah dapat meletakkan semangat mereka dalam diri pemuda saat ini, terutama
pemuda yang selalu menyerukan aksi yang tak kenal henti. Selanjutnya mungkinkah
kita akan menjadi bagian dari generasi yang akan dikenang dan menjadi inspirasi
generasi-generasi selanjutnya? Atau kita hanyalah bagian dari generasi yang
sebaiknya dibuang saja dari lembar sejarah pergerakan kepemudaan.

Mencari
jati diri, sebuah langkah pasti sebelum beraksi, menimbang suatu kebenaran
dengan taraf yang umum akan membuat kita jauh tertinggal, karena kondisi kita
tidak selalu ideal, jadi ukurlah setiap angan dan niat dengan kemampuan diri,
dari dalam hati dan ikutilah intuisi. Jika tetap salah maka jangan takut
mengulangi, karena kesempatan selalu ada selagi kita mau mencoba. Menjadi
pemuda yang menggenggam arah bangsa bukan hal yang sulit jika kita
berkepribadian tangguh, dan selalu mengerti apa yang terbaik bagi diri sendiri,
dan orang lain. Serta selalu mengeksplorasi potensi diri, menentukan bentuk
kontribusi nyata tidak hanya asal mengikuti jejak orang lain, yang terlihat
benar dan mulia. Karena dalam hidup kita tak akan tahu apa yang akan terjadi
jika tidak mencoba dan terus berusaha. Jadilah yang terbaik untuk semuanya,
yang nyata dan tak lekang digerus zaman. Kebangkitan bangsa bukan sekedar
berdiri kokoh namun sesaat, tapi benar-benar berdiri menopang segala aspek
kehidupan yang terus menerus dan tak berhenti dalam satu generasi saja. Seratus
tahun kebangkitan bangsa, mungkinkah ada seratus tahun lagi di depan kita?  —(oleh : Faizha)— jadi juara 2 nih..

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 
 

 

Untuk Bangsaku…

August 7th, 2008 by myustories

Ada sebuah
ungkapan….

Yang lalu biarlah
berlalu…

Tapi bagaimana jika
yang berlalu adalah jutaan nyawa…

Tapi bagaimana jika
yang berlalu adalah sebuah kehormatan…

Saat semua berlalu, kita hanya perlu tahu..

Dalam seonggok sejarah kelam tersimpan dalam pustaka kusam..

Kitapun berujar, masih ada hari esok lebih indah meski tak menengok ke
belakang..

Saat semua berlalu, kita hanya perlu tahu..

Menghapal lagu dan menghormat sebuah pusaka kebanggaan..

Kitapun berpikir, memang harus ada yang hitam saat bumi berputar mengelilingi surya..

Semua benar-benar sudah berlalu, tapi kita tak tahu pasti, apa yang
berlalu…

Jika bunga bangsa mengukir sejarah dengan darah..

Jika bunga bangsa memahat nisannya dengan nyawa..

Maka ada satu beda dan sejuta beda, saat kita disini merajut asa dengan
euphoria..

Semakin beda saat kita menemui putus asa hanya karena merasa…malas..

Apa suatu saat pernah ada ruh dalam jiwa hampa..

Ruh yang senantiasa mengaca dalam cermin masa..

Bukan sekejap untuk negara, agama, keluarga, dan alam
semesta..

Untuk diri kita, mengubah semua yang kelabu menjadi
secerah merah jambu..

Jika esok tiada lagi Agustus tahun depan..

Jika esok tiada lagi merah putih berkibar..

Maka cukuplah kukenang sebuah semangat Indonesia..

Karena tiada akan terulang sebuah proklamasi kemerdekaan..

Di tangan generasi muda rapuh layu dan hanya menuntut
ambisi semu..

Sebuah kemurahan Allah yang Maha Kuasa..

Saat kutemui Indonesia, meniup lilin ke enampuluhtiganya..

Saat kutemui Indonesia, masih meniup terompet keagungannya..

Tanpa pernah merasa malu dan sesal memilikiku…

Karena Indonesia memang bisu..tanpa kita berdiri di garda terdepan
meneriakkan…

Semangatlah Indonesiaku….Majulah
Indonesiaku…Bangkitlah Indonesiaku..

 

sebuah renungan dalam amanah…

August 7th, 2008 by myustories

Medio Juli ’08… ketika amanah itu tak boleh dijinjing tapi
dipanggul…sangat berat.

Saat ini rasanya aku berada dalam kurva sinus ketika
mencapai nilai sin 180 derajat. Tergelincir sedikit saja aku akan menjumpai
diriku dalam keadaan minus… minus
kepercayaan diri, minus harga diri…

Menjadi seorang pemimpin tak ubahnya menjadi seorang
pemimpi…hanya beda tipis, ketika tanganku tak mampu menggapai mimpi yang
menggantung maka akan kurelakan jika harus dinikmati orang lain. Dan jika aku
tetap bersikeras menggapainya, akhirnya aku akan jatuh terjerembab di atas
tanah yang tersusun atas butiran-butiran pahit yang rasanya menusuk hingga ke
tulang, sangat sakit. Tak hanya tulang, hati ini rasanya lebam karena kenyataan
yang mengecewakan. Tapi bukan lah seorang yang arif jika menyalahkan keadaan,
yang perlu dilakukan adalah duduk sebentar, menghela nafas, mensyukuri segala
yang telah terjadi, kemudian menata kembali rencana selanjutnya. Yang jelas
haram jadinya jika aku menangis, menangis karena sakit…karena lelah ,, dihadapan
orang-orang yang seharusnya menjadikanku sebuah motivasi dan inspirasi. Sikap
rapuh itu layaknya satu titik yang mengekstrapolasi kurva tan 90 derajat
menjadi turun ke bawah hingga aku mengkhianati dunia bahwa mimpi itu tak ada
batasnya..

Jika hari ini aku benar-benar lelah, benar-benar mengijinkan
air mata ini keluar mengunjungi rumitnya dunia, aku ingin saat ini aku berada
dalam sebuah bilik kelam tanpa cahaya dan udara, sehingga tak ada yang harus
mendengar ketika aku harus berteriak, meluapkan segala keletihan.  Oh bundaku, rasanya ingin aku kembali
bermanja-manja dalam rengkuhanmu, saat aku masih merasa dunia itu hanya
berwarna biru muda, saat aku hanya  tahu
kalau sebenarnya arti kepercayaan adalah sebuah kebanggaan. Betapa kuingat
waktu hanya satu harapanmu waktu itu, besok kalau sudah besar jadi dokter
ya…ha..ha.. itulah sampai sekarang yang selalu membuatku menangis dalam tawa…
betapa ku belum pernah membahagiakanmu dengan menyempurnakan gugusan mimpi yang
menyusun ragaku. Ya..Bunda, mimpi itu
tinggallah mimipi, dan aku memutuskan hanya cukup satu mimpi yang wajib
kudapatkan, masuk surga! Itu lebih dari cukup..jika semua yang kuimpikan tak
menjadi kenyataan.

Pagi ini aku selalu memainkan peran sebagai seorang wanita,
makhluk yang cengeng!! Aku memupuk ilalang dengan cinta dan menyiangi belukar
dengan asmara. Tak lupa kusapa bidadari-bidadari dunia dengan sebuah senyum
yang nista. Dan tak hilang dari sebuah kebiasaan selalu menaburi roti sarapan
pagi dengan semangat… dan jika semangat belum cukup mengenyangkan, kulahap pula
sebuah obsesi dan mimpi kemudian kututup dengan do’a semoga semua berjalan
terkendali.. dan dapat kumiliki… Oh dunia terimalah aku apa adanya, jangan kau
sakiti orang yang benar-benar selalu ragu terhadap potensi dan malas mencuri
sebuah arti persaingan.

Sebenarnya tak ada hal lain yang membuatku tetap bertahan di
sini, ha..ha..menjadi pemimpin bagi diri sendiri seperti menjadi pemimpin
pasukan memerangi musuh..ya musuh itu adalah egoisme. Aku terlanjur berkubang
dalam lumpur, dan tak mungkin aku membiarkan diriku keluar berlumur lumpur, aku
harus membersihkan semuanya, jika akhirnya tidak sebersih yang diharapkan
orang, setidaknya aku sudah merasa bangga bisa bertahan bernafas dalam lumpur.
Hey..bangunlah, aku harus benar-benar bertahan, meskipun tanpa penyangga yang
kuat…ini semua amanah, amanah tak akan pernah kompromi dengan orang-orang
pengecut sepertiku di akhirat kelak. Bahkan ia akan mengungkapkan sejujurnya
tanpa menambah ataupun mengurangi satu huruf ‘prestasi’ entah itu bobotnya
seringan bulu angsa atau seberat bongkahan gunung es. Hey ingatlah…aku tidak
akan dianggap jika aku tidak merelakan diri , merelakan setiap waktu, merelakan
setiap hati , merelakan setiap mimpi untuk mengisi hari-hari dengan perjuangan
yang bahkan bagi sebagian orang hanya dianggap sebagai slada kakap bakar.

Aku merindukan saat-saat ada yang meneriakkan “Ayo Umi…kamu
pasti bisa, kamu harus yakin bahwa inilah jalanmu, inilah potensimu, jangan
pernah menyerah karena hidup itu indah jika kamu ikhlas menjalaninya” dan aku
sekali lagi benar kata orang wanita memang merepotkan, cengeng dan terlalu
mendramatisir… Hey..sudah bukan waktunya
lagi, sudah waktunya kau yang meneriakkan itu kepada mereka, kepada orang-orang
yang lebih baik, yang lebih berpotensi dan lebih membanggakan jika mereka lebih
baik dariku… Sungguh Ya Allah..kuatkan aku dalam jalanmu.. agar tak terlintas
rasa putus asa dan sombong.. Hari ini, masih sama dengan kemarin, esok atau
lusa, ku hanya seperti pelepah kelapa tak berguna yang mengapung dan hanyut
seiring aliran sungai. Tapi aku tak
pernah berhenti berdoa, semoga Allah menetapkan hanyutku di atas sungai yang
jernih, yang airnya suci dan menuju ke kebahagiaan abadi.

Kepada semua yang mempunyai mimpi…Semangat!!

Ada cinta yang akan
menguatkanku berpijak..Ada rindu yang akan membuatku bertahan..Ada benci yang
akan menahanku untuk lengah..Ada tangis yang akan menghapus segala lelah…

Jangan pernah menjadi pengecut yang menyerah pada keraguan
dan keterbatasan, kesempatan akan menghampiriku jika aku menjemputnya dengan
semangat dan kesungguhan.   

July 11th, 2007 by myustories

MELIHAT BINTANG ATAU MELIHAT DOSA
??

Aku suka bintang di malam hari..tapi kau suka
bintang di pukul tiga pagi..

Lalu kutanya alasannya, jawabannya sulit aku
mengerti..

Aku tidak bodoh, kau tahu itu tapi untuk kali
ini saja kau menyuruhku..

Lalu aku berhenti bertanya, tapi kau
memaksa..

Aku menebakmu, kataku karena sinar bulan tak
lagi dominan..

Kau menggeleng..Aku mengerutkan dahi..

Karena sebentar lagi pagi..Kau tertawa..

Kau memaksaku naik ke atap..aku menurut
saja..

Aku bukan penurut, kau jelas tahu tapi untuk
kali ini saja kau memerintahku..

Dusta jika katamu kelap kelip itu hina..

Kau menggeleng..Aku mengerutkan dahi..

Kali ini katamu malaikat semua turun,
Pangerannyapun turut..

Aku percaya saja katamu, daripada aku
keliru..

Aku tertawa, kau minta aku menghitung bintang
di langit..

Jumlahnya tak terhingga, mana aku sanggup..

Itulah dosaku..katamu..sangat banyak tak
terhingga..

Aku memelas, memohon ampun, kau menangis..

Bintang itu kelihatan sangat kecil, padahal
se-matahari..

Itulah dosaku..katamu..ternyata banyak dosa
besar..

Aku menangis, kau tersenyum..

Bintang itu kelihatan rata dan indah, padahal
tak rata dan terjal..

Itulah dosaku..katamu..terlahir dari
perbuatan yang terasa nikmat..

Aku tersenyum, kau memarahiku..

Aku tak lagi suka bintang, entah malam atau
pukul tiga pagi..

Pangeranku Maha Penyayang, dosa itu untuk
ditobati, bukan untuk dikagumi..

Pondok Nur Huda, 8 Juli 2007

02.30 WIB, Qiyamul lail..asrama Al-Qur’an.

24 Juni 2007

Aku dapat kado special…..aku masuk 25 besar finalis Program magang
jurnalistik flash student magazine…awalnya aku ga percaya, coz sbenarnya aku
juga cuma coba-coba ngirim artikel, itupun karena diberi tahuMbak Lia. Hobi
nulis sih memang iya, tapi wktu itu aku lg sibuk2nya UAS, jd ga mood bwt nulis. Eh ga nyangka tulisanku
yg bjudul “..dari Solo…” disambut
hangat panitia. Dari se- Yogya, Solo, Semarang- diambil 25 besar, and I include
of them…it’s amazing!! Alhamdulilah….

27 Juni 2007

Aku dapat kesempatan bwt ikut palatihan jurnalistik bsama Flash
di Solopos. Wah seru banget…dpt temen2 baru dari mana2, kebanyakan semuanya
nyambung ma jurusan kuliahnya, HI UGM, FISIP UNS, Sastra, Komunikasi, DKV,
dll…lha klo aku MIPA he..he…but jurnalistik emang universal sih. Yg ngisi acara
juga keren2 ada Pemred Flash, Pemred Solopos, dll mereka hebat2!! Aku bersama
24 finalis lainnya sgt enjoy…oh ya kata panitia akan diambil 6 besar utk magang
di Flash (3 jurnalis dan 3 fotografer)..yach aku sih awalnya pesimis gitu,
mereka smua keren2…but gpp hr itu kuniatkan utk mencari ilmu dan pengalaman
baru, apalagi dapat sertifikat dan yg jelas gratis..he..he…

7 Juli 2007

Alhamdulilah….aku ga nyangka aku termasuk satu diantara 3
jurnalis yg berkesempatan magang di Flash..keren!!Yach…surprise ja…coz dlu aku
smpat ga yakin, melihat temen2ku smuanya keren2 baik scara verbal maupun
redaksional. Aku bersyukur atas kesempatan ini…Aaah..tantangan baru ni, aku
jadi insan pers beneran!! Ya..meski di kampus aku dah jd staf redaksi Linier ma
editor Scienta (keduanya LPM di MIPA) tapi ini sekaliber Flash gitu..yg lbih
menusantara dan terbitan Jakarta gitu…emm takut? tentu aja, takut ga bisa
njalanin tugas dengan baik….tp sp yg tau kalo aku tdk mencoba? ini good chance
bwt ngembangin potensi, dan meneruskan hobi. Smoga saja aku bisa…..

Okay…Umi…let’s move..be a good Scientra (Scientist + Sastraist)
he..he..hal_lah narsis!!